Mengantar dan Membimbing Siswa Menuju Olimpiade Fisika Internasional

Pelajaran fisika telah menjadi ‘momok’ di sebagian besar kalangan siswa SMA di Indonesia. Rumus-rumus sulit yang hanya bisa dipahami orang-orang jenius mungkin menjadi gambaran yang terlintas pertama kali di benak siswa ketika membayangkan subjek ini. Hal itu menjadi penyebab minimnya prestasi siswa SMA Indonesia pada mata pelajaran fisika. Padahal pada kenyataannya, pelajaran ini bisa dipahami cukup dengan menggunakan penalaran mudah yang realitanya dapat dilihat dari kejadian sehari-hari.

Hal ini memacu saya untuk menjelaskan pada siswa bahwa fenomena fisika ada di sekeliling mereka dan bukan hanya berisi teori-teori kompleks dengan perumusan panjang. Diharapkan dengan pendekatan tersebut, siswa dapat menyadari bahwa fisika itu menyenangkan sehingga mereka terangsang untuk bisa mengaplikasikannya pada lingkungan di sekelilingnya.

Melalui metode pengajaran yang tepat, siswa dapat membuka belenggu potensi dan siap meraih prestasi dengan ikut serta dalam kompetisi pelajaran di luar sekolah. Dukungan dari semua pihak terutama kepala sekolah yang dipadu dalam suatu jaringan kerja sama tidak hanya akan membantu siswa, tetapi juga pihak-pihak itu sendiri untuk meraih yang dicita-citakan. Prestasi yang diraih seperti pada kompetisi fisika paling bergengsi, yakni olimpiade tingkat Asia (APhO) dan olimpiade tingkat dunia (IPhO), otomatis akan mengangkat nama baik sekolah, bangsa, dan negara, khususnya dalam bidang pendidikan fisika.

Modal Dasar Peningkatan Prestasi Siswa
Seleksi masuk yang ketat mengakibatkan input sekolah ini merupakan siswa-siswa SLTP yang berkualitas. Guru-guru yang berdedikasi tinggi turut mendukung pelaksanaan proses belajar mengajar dengan tetap melakukan koordinasi antar sesama demi kemajuan siswanya. Sekolah tersebut juga dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang dapat menggali potensi dalam diri siswa. Selain itu, kepala sekolah juga sangat mendukung kemajuan guru-guru untuk meningkatkan potensi diri. Berbagai cara dilakukan oleh kepala sekolah untuk kemajuan guru-guru, misalnya dengan diikutsertakan dalam berbagai pelatihan dan seminar.

Dalam situasi yang sedemikian kondusif tentu saja sangat membantu untuk menerapkan strategi pengajaran yang telah disusun. Meski kualitas siswa yang masuk sudah memadai, pasti selalu saja ada ruang untuk kemajuan. Dengan memberikan pemahaman konsep yang mudah dipahami ditambah contoh-contoh soal yang aplikatif diharapkan siswa mampu menyelesaikan bermacam variasi soal. Tidak kalah penting adalah pembentukan kelompok-kelompok belajar di kelas untuk menumbuhkan kebiasaan berdiskusi dalam penyelesaian masalah-masalah fisika. Untuk menambah motivasi anak didik, saya juga sering menceritakan kisah-kisah mengenai kehebatan penemuan-penemuan fisika berikut dampaknya dan juga tentang prestasi kakak-kakak kelas mereka yang telah berhasil dalam kompetisi fisika. Target yang ingin dicapai setelah pembinaan, yang Alhamdulillah selama ini memperlihatkan keberhasilan yang cukup signifikan, adalah siswa yang menyukai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Jalan Menuju Olimpiade Fisika
Tidak dapat disangkal bahwa kebahagiaan tertinggi bagi seorang guru adalah melihat anak didiknya meraih kesuksesan. Salah satu contoh kecil yang dapat dijadikan tolok ukur langsung adalah keberhasilan siswa dalam memenangkan kompetisi-kompetisi di luar sekolah. Di sana siswa dapat mengaplikasikan ilmu yang telah didapat sekaligus mendapatkan gambaran objektif tentang kemampuan dirinya dengan siswa dari sekolah lain sebagai pembanding. Tentu saja peran aktif seorang guru sebagai pembina dan pengarah mutlak diperlukan untuk membimbing anak ke arah tersebut. Sebab hasil yang maksimal diraih bukan dengan cara menggantungkan semua beban ke pundak seorang siswa, tetapi dengan suatu teamwork dimana setiap komponen turut membantu semaksimalnya sesuai dengan peran masing-masing.

Langkah pertama dimulai dengan mencari siswa berpotensi di berbagai kelas di sekolahnya. Caranya adalah dengan melihat rapor evaluasi siswa atau meminta pendapat guru lain, termasuk kawan siswa, tentang siapa siswa yang mereka anggap berprestasi.

Langkah berikutnya adalah dengan mengikutsertakan siswa pada kompetisi di luar sekolah. Tidak lupa untuk memperkenalkan situasi lomba dan juga untuk menggembleng moral, saya sertakan siswa kelas 1 SMA untuk mendampingin kakak-kakak kelasnya dalam berlomba. Diharapkan mereka dapat menjadi teladan bagi adik kelas mereka sehingga dari awal sudah timbul keinginan untuk serius mengimprovisasi diri. Kompetisi-kompetisi semacam ini saya anggap sangat berguna untuk perkembangan mental dan tekad siswa, sekalipun harus pulang tanpa membawa piala. Dengan modal pengalaman serta mental yang kuat, sekitar beberapa minggu sebelum seleksi ujian masuk TOFI (Tim Olimpiade Fisika Indonesia) nasional, anak-anak yang telah dipersiapkan tersebut mulai dibimbing secara intensif.

Pada saat penentuan tiba, semuanya berangkat dengan wajah ceria. Tidak ada rasa cemas karena semua sudah berusaha mempersiapkan segala sesuatunya dengan maksimal. Saya ingatkan mereka supaya memulai mengerjakan soal dengan menenangkan hati dan mengucap doa semoga diberikan kemudahan dalam mengerjakan soal. Di tempat itu biasanya kami saling bertukar cerita tentang soal yang tadi diujikan. Tidak peduli hasil yang akan keluar nantinya, selalu saya tekankan kepada mereka untuk terus belajar, belajar, dan belajar tanpa ada rasa putus asa.

Apabila anak didik saya yang lolos seleksi TOFI dan masuk karantina untuk penggemblengan lebih lanjut, saya tetap memberikan mereka dukungan dari jauh. Di tempat karantina mereka diajar di bawah bimbingan Prof. Yohanes Surya berikut asisten-asistennya.

Tanpa terasa beberapa bulan kemudian momen puncak tersebut dating. Pihak sekolah memberikan dukungan dengan memberikan uang saku kepada murid, termasuk izin bagi guru pembimbingnya. Berbagai dukungan juga datang dari berbagai pihak seperti departemen pendidikan, beberapa pejabat, kepala sekolah, guru-guru, teman-teman siswa sampai orang tua murid.

Kesimpulan
Guru bukanlah seorang yang hanya bisa mengajar materi di kelas, tetapi juga sebagai pendidik yang mampu memotivasi, mengarahkan, dan menggali potensi yang ada pada siswa sehingga siswa tahu akan bakat dan minatnya hingga bisa mengembangkan dan memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Dalam rangka menambah wawasan di dunia pendidikan yang dinamis, seorang guru juga dituntut untuk dapat mengikuti perkembangan pengetahuan melalui berbagai media dan wadah pelatihan. Sebagai bagian dari suatu jaringan yang saling menunjang, seorang guru berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi perannya sebagai guru yang bisa bekerja sama untuk membangun sekolah. Melalui peningkatan prestasi siswa diharapkan dapat meningkatkan motivasi siswa yang lain hingga mampu berkompetisi di dunia internasional, khususnya di bidang fisika dalam membangun teknologi Indonesia. Diharapkan pemerintah dapat memfasilitasi siswa-siswa yang berpotensi dengan memberi beasiswa penuh sesuai dengan bakat dan minat siswa sehingga tidak diambil oleh lembaga pendidikan di negara asing.

*) Guru pembimbing Olimpiade Sains Nasional DKI Jakarta dan juga Guru SMAN 78 Jakarta

Ujian Nasional SD Berlaku Mulai 2008

Depdiknas memastikan Ujian Nasional (UN) untuk
Sekolah Dasar (SD) berlaku pada 2008. UU Sisdiknas 2003 mengisyaratkan
adanya UN untuk SD yang dimulai 2008. Untuk itu, Depdiknas mengharapkan
pada saat itu seluruh gedung SD/Madrasah Ibtidaiyah (MI) tuntas
direhabilitasi, agar bisa mempersiapkan diri sebaik-baiknya untuk
menghadapi Ujian Nasional (UN) tingkat SD.

Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah
(Dikdasmen) Depdiknas Suyanto mengatakan, UN SD itu untuk mencapai
standar kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan yang ditetapkan secara
nasional.

“Ujian Nasional itu untuk menentukan sejauh mana
pencapaian isi pendidikan yang telah diraih oleh perserta didik,
termasuk juga murid SD,” kata Suyanto seraya menambahkan UN itu menjadi
semacam alat ukur bagi tahapan pendidikan, Senin (4/12).

Menurut
rencana pada 2007 mulai dilakukan uji coba UN SD untuk mata pelajaran
Matematika dan bahasa Indonesia. Hasil UN SD ini bukan persyaratan
untuk masuk SMP. Untuk itu, orang tua tidak perlu khawatir. Apalagi,
standar kelulusan serta kesulitan soal bias lebih rendah dibandingkan
yang sudah diajarkan di sekolah.

Sudah waktunya kita mencontoh,
seperti Amerika atau Australia yang menerapkan setiap tiga tahun
diadakan evaluasi. Targetnya, untuk mengetahui kemampuan membaca,
menulis dan berhitung. “Jadi, pada akhir enam tahun pertama sekolah
atau setara lulus SD di Indonesia sudah bisa baca, tulis dan hitung,”
jelasnya.

Mengenai banyaknya sekolah yang melakukan pelatihan
siswanya untuk mengejar kemungkinan UN SD tahun ini, hal itu baik saja,
karena juga bisa memicu semangat belajar anak didik.

Soal
kemungkinan kesenjangan antara anak di pelosok Nusantara dengan anak di
kota atau materinya dinilai terlalu berat bagi anak kampung, Bahrul
mengatakan, pemerintah mengupayakan pembelajaran melalui televisi
edukasi (TVE).

Satu kabupaten mempunyai satu, yang bisa langsung
merilai siaran yang berisi materi pembelajaran untuk matapelajaran
Matematika, Bahasa Indonesia, Sains, IPS dan pelajaran yang lain.

Praktiknya
guru akan menjelaskan kepada murid per tema yang sedang direlai, materi
bisa dikopi kemudian dijelaskan ulang kepada siswa. Tetapi materi
dengan menggunakan TVE ini untuk tahun 2006 diutamakan baru untuk SMP
menyusul kemudian SD, dan SMA/SMK.

Dia mengharapkan kalau
masyarakat, khususnya orang tua murid, agar jangan cemas mengenai
adanya UN bagai murid SD. Sebab, UN hanya untuk mengukur prestasi murid
sesuai dengan standar yang sudah ditetapkan oleh pemerintah.

“Apa
yang dicemaskan dari UN. Masyarakat, seharusnya tidak perlu cemas. Dan,
tidak perlu juga mempersoalkan ada atau tidak ada UN,” katanya seraya
menambahkan UN itu hanya alat untuk mengukur, sebuah standar kompetensi
nasional.

Sejauh mana daya serap murid-murid SD terhadap isi
kurikulum yang dipelajarinya selama enam tahun itu. Sebagaimana alat
ukur lainnya, seperti juga standar isi pendidikan, standar sarana dan
prasarana, dan standar-standar lainnya diukur dengan ujian nasional.

Ketika
ditanya soal pertimbangan wajib belajar sembilan tahun, sehingga tidak
dibutuhkan UN bagi murid kelas VI SD, dia menegaskan UN itu hanya untuk
mengukur kemampuan peserta didik.(indonesia)

Soal olympiade Fisika

 Soal Ujian Olimpiade Fisika Asia
5 Juni 2005 – Ahmad Hasnan

berikut ini soal ujian bidang eksperiment fisika olimpiade fisika asia, untuk soal lainya dapat diperoleh di http://www.apho.org
fisika-soal-olimpiade (286 Kb)
Tips men-download file :
Klik kanan di file yang akan didownload, lalu pilih menu Save Target As (pada Interner Explorer) atau Save Link As (pada Mozilla Firefox)

Muh Irsyad Sayuti, Juara I Olimpiade Bahasa Indonesia

MENJADI jawara pada kompetisi Olimpiade Bahasa Indonesia, tidak membuat Muh Irsyad Sayuti bangga berlebihan akan prestasinya. Alasannya singkat. Siswa kelas XII IPA A SMA 3 Makassar tidak mau lupa daratan hanya karena prestasi tersebut. Bagaimana sosok Irsyad sebenarnya, dan bagaimana ia meraih prestasinya?

Prestasi yang diraih cowok jangkung ini diraihnya di Lomba Cipta baca Puisi, Olimpiade Bahasa Indonesia se Sulawesi Selatan beberapa pekan lalu. Irsyad saat itu harus bersaing dengan pesaingnya yang terbilang banyak.

“Pada babak pertama, saya mengikuti proses seleksi dengan mengerjakan soal pilihan ganda sebanyak 50 soal,” ujarnya ramah.

Lolos dari babak pertama, cowok kelahiran Makassar 24 Desember 1984, kembali melaju ke babak kedua. Di babak ini, Irsyad kembali harus beradu kecerdasan. “Saya dan pesaing lainnya menyimak wacana yang dibacakan juri lalu dituangkan ke dalam tulisan,” kata putra pasangan Sayuti Ba’as dan Sitti Amanah ini.

Babak kedua yang dijalani Irsyad tentunya tak sebatas itu saja. Masih di babak yang sama, ia harus memamparkan hasil tulisannya di hadapan juri selama lima menit untuk setiap peserta dan tanpa teks. “Dalam pemaparan tersebut peserta dinilai dari keterampilan berbicara,” sahutnya.

Meski menduduki posisi runner up di babak kedua, Irsyad tak patah arang untuk menyaingi pesaingnya yang hanya tersisa tiga orang saja. Babak terakhir yang merupakan cerdas cermat, Irsyad unggul setelah menjawab 11 soal dari soal rebutan.

Sang jawara ini pun mencoba mengkritisi pergeseran bahasa Indonesia di kalangan anak muda. “Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi mulai pudar khususnya di kalangan anak SMA. Di kalangan tersebut banyak berkembang bahasa yang tidak baku,” ulasnya yang menolak untuk difoto. Irsyad menjelaskan, kalangan remaja sering mencampur adukkan bahasa Indonesia dan bahasa inggris yang berlebihan serta campuran bahasa daerah.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 88 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: