Soal-soal Olimpiade Sains Sulit Dicerna

– Diduga akibat Fasilitas Tak Merata
Pekanbaru, Kompas – Soal-soal eksperimen yang disajikan pada hari kedua ujian Olimpiade Sains Nasional di Pekanbaru, Riau, ternyata sulit dicerna oleh peserta, terutama bagi mereka yang berasal dari sekolah-sekolah di luar Jawa. Penyebabnya diduga kuat karena kelengkapan fasilitas laboratorium sains di sekolah-sekolah di seluruh Tanah Air tidak merata.

Demikian hasil pemantauan Kompas dari lokasi-lokasi ujian Olimpiade Sains Nasional (OSN). Lokasi yang dipantau mencakup jenjang SD, SMP, dan SMA.

“Sejumlah instruksi eksperimen sulit saya jabarkan karena sebelumnya kami tidak mendapatkan gambaran soal itu,” ujar Vidia Chairun, siswi SMA Negeri 1 Mataram. Vidia Chairun mewakili Provinsi Nusa Tenggara Barat untuk bidang studi Biologi.

Instruksi yang diakui Vidia sulit dijabarkan itu, misalnya, tentang mikrobiologi dan analisis susunan protein pada tumbuhan. Para siswa kesulitan melakukan penamaan sejumlah organ tubuh serangga, ikan, dan tumbuh-tumbuhan.

“Saya bingung harus menyelesaikan yang mana dulu. Waktunya terlalu mepet, cuma 25 menit. Materi soalnya menjebak, jadi harus teliti,” ujar Vidia.

Hal senada diutarakan Ina Rumainum, siswi SMA Negeri 5 Jayapura, Papua. Begitu pula pengakuan Rizka Mardhia Harnia, siswi SMA Negeri 2 Bandar Lampung, Lampung.

Pada soal eksperimen untuk bidang studi Kimia, Taufik Akbar dari SMA Negeri 1 Masamba, Sulawesi Selatan, juga gagap menggunakan alat bantu eksperimen untuk menganalisis senyawa kimia yang dicampur guna menghasilkan senyawa baru. “Terlepas dari itu, ada sejumlah tabung pemisah larutan yang bocor,” katanya.

Pada bidang Matematika SD, sejumlah siswa kesulitan menerjemahkan perintah soal yang oleh panitia disajikan satu soal dalam bentuk bahasa Inggris. “Soal matematikanya ada enam. Yang paling susah soalnya pakai bahasa Inggris sehingga harus buka kamus untuk menerjemahkannya dulu,” kata Hendri Kadang, siswa SD Karunia Dipa Palu, Sulawesi Tengah.

Soal yang ia maksudkan adalah tentang berapa berat dan luas kursi A dan kursi B. Soal lain yang dianggap sulit adalah tentang mengukur eksplorasi kedalaman kolam.

Mengutamakan teori

Akan tetapi, pada bidang Fisika tingkat SMA, tampaknya terjadi pengecualian karena rata-rata alat bantu dan soal eksperimennya relatif akrab dengan kehidupan nyata di masyarakat. Misalnya, bagaimana mengukur ketebalan benda dengan laser.

Ketua Dewan Juri Bidang Fisika SMA Dr Rahmat Widodo Adi mengakui bahwa peralatan fisika memang tidak perlu rumit-rumit karena bisa direkayasa sendiri oleh guru dan panitia.

“Pada bidang Fisika kami memang tidak memfokuskan pada eksperimen karena tidak semua sekolah memiliki alat laboratorium. Jadi 90 persen penilaian ujian lebih dititikberatkan pada ujian tulis,” katanya.

Apalagi, lanjut Adi, nantinya 30 peserta yang lolos pada tiap bidang akan diseleksi ulang untuk dibina sebelum ditetapkan sebagai wakil Indonesia ke luar negeri.

Ketua Dewan Juri Bidang Matematika Dr Achmad Muchlis sependapat dengan Rahmat bahwa bobot penilaian lebih baik dominan pada teori, sebagai upaya mengurangi kesenjangan mutu pembelajaran di sekolah-sekolah.

Satu Tanggapan

  1. tetap menimbulkan kesenjangan antara sekolah di daerah maju (jawa, sumatra) dengan daerah lain. sekedar pelipur lara ….😦

Write Your Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: