Uan 2007 dan permasalahannya

UJIAN Nasional 2007 tinggal beberapa minggu lagi. Di angkot, di pasar dan di tempat-tempat umum lainnya saya banyak mendengar orang-orang membicarakan ujian yang selalu menjadi pro dan kontra ini. Umumnya mereka merasa skeptis apakah Ujian Nasional 2007 yang diselenggarakan medio April nanti bisa menjadi ujian yang berkualitas dan menjadi tolok ukur prestasi siswa.

Sebetulnya sikap skeptis ini sangat wajar dan beralasan karena sistem ujian yang diterapkan saat ini belum mengena untuk kebanyakan siswa yang masih memiliki budaya disuapi. Apalagi ukuran kelulusan siswa yang hanya dilihat dari 3 mata pelajaran, saya pikir masih belum bisa menjadi indikator bahwa siswa yang tidak lulus adalah siswa yang tidak cerdas. Karena indikator kecerdasan seseorang tidak bisa dilihat dari nilai angka bidang studi tertentu, tapi juga harus dinilai dari attitude, kreativitas, imajinasi, minat dan bakat serta skill.

Bila sistem Ujian Nasional seperti masih dipertahankan di tengah mayoritas masyarakat masih mempertanyakan kredibilitas ujian ini, kemungkinan kecurangan pasti akan terulang kembali. Bila melihat kejadian tahun lalu, biasanya kecurangan ini menguap begitu saja. Sebenarnya banyak kok orang yang tahu bahwa tahun lalu ujian dimulai pukul 8.00 WIB tapi soal sudah bisa ke luar sekolah pukul 8.20 WIB. Yang saya dengar umumnya para oknum mengejar guru-guru privat untuk mengisi soal yang keluar tadi untuk kemudian disebarkan ke peserta melalui SMS dan yang lebih ekstrem konon ada yang menempelkannya di kamar kecil. Wah, apa iya sih?

Menurut seorang guru yang saya kenal, pejabat tertentu pun sebelum Ujian Nasional tahun lalu berlangsung sudah berpesan untuk tidak terlalu ketat melakukan pengawasan. Hal tersebut ditujukan agar nama daerahnya tidak buruk karena kuantitas siswa yang tidak lulus sangatlah banyak. Jadi sepertinya kebocoran-kebocoran tadi dibuat secara sistematis. Hebat kan bangsa kita?

Nah, pekerjaan rumah Depdiknas banyak juga kan? Tinggal terserah panitia deh. Dengan Ujian Naisonal nanti apakah mau memilih cara tahun lalu, atau mau benar-benar jujur. Misalnya selain pengawas independen, di setiap sekolah ada aparat keamanan dengan jumlah yang cukup dan semua prosedur ke luar masuk manusia dan barang dicek satu per satu.

Bisa dibayangkan kalau hal seperti tahun lalu masih terjadi tahun ini Pendidikan adalah tolok ukur moralitas suatu bangsa. Kalau dalam pendidikan sudah dikotori dengan hal yang buruk, itu berarti kita sudah mendidik anak ini untuk menjadi manusia-manusia yang memiliki moralitas buruk. Jadi bapak dan ibu guru jangan marah kalau masyarakat melihat remaja sekarang banyak yang badung dan mereka dikaitkan dengan kualitas pengajaran bapak dan ibu guru.

Kiranya juga DPR kita harus turut mengawasi pelaksanaan Ujian Nasional tahun ini, bisa memberikan masukan kepada pemerintah agar kelak kredibilitas Ujian Nasional ini bisa diujimateriilkan, layak atau tidak layak. Yang lebih penting adalah peran serta masyarakat untuk turut melakukan pressure terhadap segala bentuk kecurangan. Kalau takut, bisa saja minta bantuan media untuk menginvestigasi dan mem-blow up.

Write Your Comment

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: